Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Online Seller

Rifki

Follow Rifki_Syabani on Twitter @Rifki_Syabani

Catatan Perjalanan

Going to 99 Ideas for Happy Worker: Bekerja Tanpa Gairah?

Tulisan kali ini berangkat dari satu kalimat kunci: “Working is not always about passion but patience.”

Ternyata banyak sahabat-sahabat saya yang sukses justru ia tumbuh berkarir di bidang yang jauh daribackground pendidikan. Koq bisa?

Karena ternyata pendidikan formal yang ia tempuh memang tidak sesuai dengan  bidang yang ia cintai, gemari dan juga digandrungi. Sekolah baginya hanya sekedar formalitas lalu setelah lulus ia kemudian menggeluti bidang yang memang menjadi hasratnya.

Contohnya seperti Bara Pattiradjawane yang sebenarnya seorang lulusan sekolah politik di Austria dan nyaris jadi diplomat, namun ternyata kini lebih sukses sebagai seorang koki handal (Chef stylist) dan memiliki satu buah acara khusus tentang memasak. Siapa yang tidak kenal dia coba? :)

Jadi ingat syair lagu Nugie yang menggambarkan satu nafas yang sama: “Lentera Jiwa”   <—- klik aja link ini. :)

Perjalanan menuju sukses dalam karir dan kerja memang tak selalu mulus. Ada yang memang bisa keluar dan menuruti kata hati. Tersebutlah bekerja sesuai dengan passion. Hingga ia pun bisa meraihachievement nan gemilang. Bekerja bukan lagi beban berat namun enjoy dan nikmat. Everyday is holiday!

Namun ternyata tidak sampai disitu saja. Pada kenyataannya banyak orang yang sekolah saja sudah tidak sesuai dengan minat dan bakatnya sekedar mengikuti ego dan prestige semata, pun saat bekerja ia akhirnya makin melenceng dari gairah dan passion-nya. Tapi apakah selesai dan tamat di situ saja?

Tidak kawan, ada satu kata kunci yang tak boleh lupa: SABAR.

Kesabaran merupakan kunci meraih sukses yang besar ketimbang sekedar passion atau gairah. Kesabaran belajar, kesabaran melatih dan mengasah kemampuan, juga kesabaran dalam menumbuhkan diri.

Dalam teori abal-abal saya pada diagram di atas ini bisa kita lihat, bahwa kesuksesan dalam berkarya hingga sampai pada derajat comfort dan contentment itu ternyata tidak harus memiliki komponenpassion di dalamnya. Cukup kita paham dan sadar bahwa apa yang kita lakukan ini penting dan dibutuhkan orang lain, dan dengannya kita mampu mendapatkan pengakuan eksistensi kita, maka cukup sudah… cukup bisa mengantarkan kita pada kepuasan yang comfort. 

Sehingga saya masih percaya bahwa Trained people can beat the talented people. Orang terlatih akan bisa mengalahkan orang berbakat.

Orang berbakat namun tidak pernah mau mengasah kemampuannya pada akhirnya tak akan lebih sukses daripada orang yang tidak berbakat namun ia terlatih dan senantiasa  mengasah diri.

Artinya apa? passion saja tidak cukup mengantarkan sukses jika kita tidak ada kesungguhan menekuninya, sedangkan tanpa passion jika kita tekun mengasah diri, yakin Insya Allah pada akhirnya kita bisa sukses! 

Dan orang terlatih itu tentu adalah orang yang SABAR…  Sabar menempa diri, sabar menumbuhkan diri… dan sabar dalam meniti potensi diri.

Maka jangan pernah risau jika saat ini anda bekerja bukan pada bidang yang anda gemari, cobalah bersabar, dan… siapa tahu sedetik kemudian anda bisa mencintai pekerjaan yang anda tekuni saat ini. Dan jadilah kemudian  Passion+Patience=Amazing!!

Bagaimana dengan anda?

.:salam spektakuler:.


Going to 99 Ideas for Happy Worker: Tidak Sekedar Baik Saja?

working is not always about being good but having attitude

Ahh… saya yang norak nan kurang ilmu ini kembali tertegun pada sebuah kata-kata motivasi yang saya dapati secara bebas pula di sebuah halaman blog motivasi. 

Secara harfiah, kata-kata itu bisa diartikan dengan:

kerja tidak cukup hanya tentang menjadi baik melainkan harus memiliki sikap (baik).


Demikianlah…

Perjalanan 7 tahun berkiprah di sebuah perusahaan operator seluler terbesar di negeri ini telah mengantarkan saya pada banyak kesadaran bahwa kita tidak hanya cukup sekedar menjadi orang baik dan berbuat baik, tetapi bagaimana sikap baik itu kemudian mampu menjadi “sikap” kita dalam membangun diri, membangun tim dan lingkungan kerja kita.

Dan dalam bahasa saya ini disebut: ISTIQOMAH. Atau dalam bahasa motivasi secara sederhana bisa juga dimaksud dengan persistence. Tekun, berkesinambungan dan konsisten dalam berkebajikan.

Maka bicara soal Attitude, di sini bukanlah sekedar tentang “prilaku”. Namun ia-nya adalah kebiasaaan, habit yang lahir dan tumbuh dari karakter yang kuat. Dan dalam materi kajian pekanan yang sering saya ikuti, karakter yang kuat ini disebut sebagai mathinul khuluq (akhlak yang kuat). Dan ia terlahir dari aqidah (konsepsi diri) yang lurus dan benar. Dalam bahasa motivasi, kita pahami sejatinya dengan “what are our purpose of life!”

Menjadi baik saja tidak cukup, apalagi “menjadi baik” hanya karena ingin dipandang dan mencuri perhatian atasan sesaat, atau sekedar agar bisa mengambil hati para konstituen dan para stakeholder. Sungguh salah kalau kita menerapkan konsep “hit and run” dalam hal ini. Berbuat baik itu harus memiliki durasi dan daya tahan yang panjang, bergelombang dan menuai manfaat.

Kalau saja bekerja itu seperti menaiki puncak gunung prestasi kita, maka akhlak yang baik itu adalah bagai bekal kita yang harus kita bawa dan jaga pada tiap jejak, dan helaan nafas kita.

Prestasi baik saja tak akan mengantarkan kita pada sukses yang sejati. Karena tanpa diiringi dengan sikap yang mulia, apalah artinya kemenangan yang diraih dengan cara sikut menyikut, menginjak, menjegal dan mendorong lawan secara tidak fair?

Berbuat baik dan menjadikannya bagian dari akhlak dan prilaku kita adalah investasi masa depan.

Tidak perlu risau nan resah atas anggapan orang, celaan dan bahkan sindiran sinis atas kesangsian soal ikhlas tidak ikhlas, atau udang yang “bersembunyi di balik batu”, karena urusan soal alasan dan niat kita saat berbuat baik hanya kita dan Tuhan yang tahu persis.

Maka tugas kita adalah, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Bagaimana dengan anda?

.:salam spektakuler:.


Blog EntryMay 8, '12 4:39 AM
for everyone

Penjual atau Pengemis?

5 Mei 2012

Pagi itu, diperempatan yang sama. Kebetulan meski sabtu, saya ada keperluan untuk mengerjakan tugas di kantor. Istri yang kebetulan juga ada keperluan berkenan mengantarkan saya dengan mobil. Seperti biasa, anak-anak usia 10 tahun-an datang merapat di jendela. Menjajakan koran pagi. 

“Om,.. beli om… tolong laaah om beli korannya… dari tadi belum ada yang beli…. tolooong Om…” Suara merengek dari luar terdengar jelas.

Ahh…. rasanya ingin saja membuka dan mengulurkan tangan menyerahkan uang dan mengambil koran pagi itu, meski seringkali kami membeli koran untuk sekedar di-scan reading saja. Sisanya saya lebih suka mengikuti berita via portal atau pun twitter. Alasan istri kalau beli, “Biarlah hitung-hitung sedekah dan membantu mereka”. Sampai situ saya sih setuju saja. Namun jika kita pandang dari sisi yang lain, ada kejanggalan. Ada sesuatu yang salah!

Begitulah seringnya kita…

Berjualan namun bukan dalam rangka memberi value dan membangun komunikasi sehingga tercipta interaksi yang bukan hanya sekedar transaksional. Kami jual dan anda beli. Sudah, selesai!

Bukankah kita harus membangun alasan kuat pembeli, mengapa ia perlu membeli produk barang atau jasa kita? 

Saya jadi ingat soal teori marketing 3.0.

Meet emotional and rational needs of consumers. Kita harus value-centric. Jika mental pedagang kita seperti ini selalu, maka yakinlah kita tak akan pernah naik kelas.

Jika mental kita hanya yang penting laku bagaimana pun caranya, saya yakin usaha dan bisnis kita hanya akan sekelas dengan peminta-minta. Dan jelas ini suram sekali.

Tentu sekali lagi kita berbicara murni dari kacamata bisnis. Transaksi yang dibangun haruslah memiliki nilai manfaat. Bukan mengais iba dan menjual derita.

Begitu pun ketika kita bekerja di NGO yang bergerak di bidang sosial. Core business kita bukan dalam rangka menjual kemiskinan dan kemelaratan. Fokuslah bagaimana kita bisa membangun keperluan untuk memberi manfaat: yaitu pelayanan dan pemberdayaan bagi kaum dhuafa.

Seperti pula ketika kita sudah berhasil mengarahkan anak-anak di perempatan jalan itu untuk tidak meminta-minta. Rasa-rasanya kita sudah mulai berhasil dengan mengubahnya dengan menjadi penjual koran atau pedagang asongan lainnya. Tetapi ternyata perjalanan tidak hanya berhenti sampai di situ. Mental mereka pun harus diubah.


[Going to 99 Ideas for Happy Worker] Just Keep Working, Do Not Waste Energy!

“Emang berpolitik nggak boleh ya kalau di kantor?”

Anda mungkin ada yang risih dengan istilah berpolitik di kantor. Kesannya ada sikut-sikutan, cari muka, menjilat dan sebagainya. Padahal berpolitik juga bisa dalam konotasi yang sangat positif. Bukankah hidup kita sejatinya memang tidak dipisahkan dengan kegiatan politik?

Berikut ini pengertian yang saya dapat dari wikipedia:

politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles); atau, politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Nah, adakah orang yang tinggal di muka bumi ini tidak terkait dan bersinggungan dengan aktivitas publik?

Kembali soal politik di kantor.

Dalam beberapa hal, termasuk penentuan kebijakan dan strategi perusahaan seringkali leader dalam rangka menunaikan tugas dan amanah yang diemban, akan memilih orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama dan ada hubungan trust yang terjalin antara keduanya ke dalam team-nya. Wajar kan? 

Like and dislike itu wajar dan normal. 

Adalah mustahil kita berusaha membuat orang lain semua; saya ulang SEMUA— menjadi suka dengan kita. Nabi aja ada musuh koq.

Some people love you and some others hate you. it’s normal. Yang nggak normal itu kalau SEMUA orang Benci setengah mati sama anda, nah baru ini jadi persoalan.  :)

Fokus lah pada apa yang membuat orang lain suka pada kita, dan redamlah semaksimal mungkin apa yang membuat orang lain tidak suka dengan kita. Rumusan sederhana, namun tak sesederhana dalam mengimplementasikannya.

Dulu, waktu saya kecil, saat menonton acara kuis di TVRI, kang Ebet Kadarusman; MC legendaris di zamannya sering bilang: “it’s nice to be important, but more important to be nice”.

Saya sering mendapati bagaimana politik kotor itu dimainkan dan diperankan olah pihak-pihak tertentu. Mulai dari politik pencitraan yang lebay bin narsis hingga politik adu domba ala VOC ataupun politik belah bambu ala kolonial. Tidak perlu jauh-jauh ambil contoh, deh. Cukup nyalakan TV atur channel via remote anda, nah silakan saksikan tontonan dan pelajaran tentang politik yang baik dan yang buruk di sana. 

Apakah di kantor juga ada? Bisa saja dan sangat mungkin. Rumusan sederhana kali ini agar kita tetap “happy” adalah: enjoy aja and just keep working!

Mungkin kita perlu mencontoh spirit yang ditularkan oleh Pak Dahlan Iskan atau salah satu ustadz yang saya kenal, kebetulan juga tagline-nya sama dengan partai politik tempat ia berkiprah: terus bekerja, terus berkarya, hingga akhir usia.

Kita memang perlu jadi kafilah yang berlalu saja saat banyak anjing menggonggong riuh berebutan daging dan tulang. Jangan habis energi pada sesuatu yang bukan “about your purpose of life”.

Berpolitik itu perlu, tetapi lakukanlah dengan bersih, dewasa dan bermartabat. Toh, pada akhirnya orang pun akan menilai mana yang tulus dalam membangun interaksi dengan atasannya dan mana jua yang sekedar opportunist sejati.

Finding your purpose of life ini penting sehingga kita memiliki orientasi jelas dalam bekerja dan termasuk di dalamnya membangun komunikasi dan interaksi dalam dunia kerja.


“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan…” [Q.S. At-Taubah:105]

 

.:salam spektakuler:.


 [99 Ideas for Happy Worker: Jalan Menuju KEPUASAN] Ada yang menarik dari sebuah blog sahabat di tumblr. Diagram menarik itu kemudian saya gambar ulang dengan gaya khas saya tentu.  Diagram himpunan irisan yang mengungkap sebuah ide besar tentang “bekerja” tentang “job”, “karir” dan tentu tentang diri kita masing-masing. Diagram ini seperti sedang bercerita pilihan-pilihan hidup, tentang bagaimana seseorang mengisi kehidupan ini dengan perannya masing-masing.  Belasan tahun lalu (tentu ditambah sedikit beberapa tahun lalu) saya yang masih polos itu seringkali dengan penuh keyakinan menjawab “ingin menjadi dokter!” kala ada yang bertanya hendak jadi apa kelak. Alasannya? mungkin sederhana saja: terpandang, hidup nyaman dengan fasilitas yang ada karena memiliki penghasilan yang cukup besar, dan tentu akan menjadi kebanggaan orang tua.   Seiring kematangan jiwa dan pola pikir yang dipengaruhi lingkungan dan tempat dimana saya “tumbuh” kemudian pilihan cita-cita itu memudar. Lebih lagi saya diketahui sedikit phobia dengan jarum suntik dan hal-hal yang berbau “darah mengucur”.   Sederhana saja, dunia suntik menyuntik itu bukanlah “something that I love”. oke, saya tak akan banyak cerita soal diri, terlalu self-centric nanti. Walaupun ini blog pribadi tentu, sah-sah saja donk saya tulis tentang apa… hehe.   Kembali ke diagram temuan di atas. Sungguh saya sangat setuju, kebahagiaan seorang dalam mengabdikan dirinya pada sebuah profesi dapat terwujud ketika apa yang dikerjakannya itu merupakan irisan dari “what you do well”, “something that you love”, “something that the world needs” dan “something that the world pays for”.   Kalau sudah seperti ini tentu bekerja seberat dan sesulit apa pun tak akan terasa menjadi beban. Justru memberikan kenikmatan dan sensasi pencapaian yang luar biasa.   Pada kenyataannya, banyak sekali orang yang bekerja justru jauh dari hal-hal yang bisa dikatakan ia sukai dan bahkan ia merasa tidak cukup baik melakukannya namun karena ketidakadaan pilihan lain akhirnya ia tetap jalani. Alasan kelompok orang-orang ini mungkin karena keterpanggilan eksternal yang begitu kuat. Bukan dari dalam. Dan ini pula yang sering memunculkan dilema.   Tarikan eksternal itu diantaranya mungkin karena dorongan dan “paksaan” orang tua dan lingkungan, atau pun karena cara pandangnya tentang bagaimana ia memandang dan memahami soal atribut kebahagiaan.   Seseorang yang berjiwa seni, terpaksa tetap bekerja sebagai diplomat karena tuntutan kebutuhan untuk memenuhi hidupnya sementara seni yang ia geluti tidaklah mampu menopang kebutuhannya. Apakah kelompok ini pada akhirnya tidak bisa menemukan kebahagiaan dalam meniti peran-peran kerja dalam hidupnya? ah, saya rasa belum tentu.   Baik sebelum kita banyak diskusi lagi, mari kita telaah satu persatu istilah irisan 3 kategori di atas:   Fulfillment: pemenuhan; penyelesaian; pengisian; pengabulan; pengerjaan. Contentment: kepuasaan; kesenangan; kesukaan. Comfort: kenyamanan; kenikmatan; kepuasan; kesenangan. Satisfaction: kepuasan; pelunasan; kegembiraan; penebusan; keyakinan. (sumber: Google translate).   Tenyata dari ketiganya di atas memiliki irisan pengertian yang sama: KEPUASAAN, selain kata &#8220;fulfillment&#8221; yang diartikan dengan padanaan kata yang sedikit berbeda.    Namun pada buku Rene Suhardono berjudul &#8220;Your Job is Not Your Career&#8221; justru kata fulfillment juga diartikan  secara harfiyah sebagai KEPUASAAN, ketercapaian, kelegaan atau kelengkapan dalam berkarya.   Sehingga secara mudahnya kesemuanya sebenarnya memiliki makna yang hampir serupa, yaitu kepuasaan dalam bekerja dan berkarya menjalankan perannya masing-masing dalam hidup.   Fulfillment dirasakan oleh seorang engineer RAN saat bisa menormalisasi jaringan selular di suatu daerah dimana tak ada sinyal satu pun dari operator lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan komunikasi disaat-saat genting. Perasaan ini juga dirasakan saat seorang manager yang berhasil membimbing bawahannya dalam menuntaskan pekerjaan pentingnya. Atau juga perasaan yang dirasakan oleh seorang penggiat sosial dimana atas bantuan penyaluran infaq dari muzakki yang ia kelola telah mampu memberdayakan dan membuat seseorang menjadi mandiri secara ekonomi.   Baiklah,lebih lanjut mari kita mengutak-atik diagram di atas dengan rumusan matematis dengan sedikit membuat penyederhanaan istilah, maka akan kita dapati istilah:  FULFILLMENT = PASSION + VOCATION = (What you do well + what you love) + (what you love + what the world needs)  = 2x what you love + what you do well + wha the world needs   Sehingga fulfillment sebagai atribut tujuan yang dicapai dalam bekerja di sini lebih di dominasi karena pekerjaan dan peran serta aktivitas tersebut kita CINTAI.   CONTENTMENT = VOCATION + CHARITY = (What you love + what the world needs) + (what the world needs + what the world pays for)   Maka dalam konteks contentment, kepuasaan yang diraih saat bekerja adalah karena lebih disebabkan oleh &#8220;sesuatu yang memang dibutuhkan orang&#8221;. Ia puas karena karyanya dan perannya diakui karena memang dibutuhkan, selain tetap bahwa ia pun mencintai pekerjaan dan apa saja yang dilakukannya tersebut.   COMFORT = CAREER + CHARITY  = (what you do well + what the world pays for) + (what the world pays for + what the world needs)   Dari penyederhanaan rumusan di atas, orang merasa comfort saat ia bekerja di bidang yang dikuasai, dibutuhkan dan kemudian ia dibayar dengan lebih memadai. Dan poin terakhir ini mendapat porsi terbesar.   SATISFACTION = PASSION + CAREER = (what you love + what you do well) + (what you do well + what the world pays for)   Dari rumusan di atas, kita dapati seseorang bisa memperoleh satisfaction ketika ia bekerja di bidang yang dikuasainya dengan baik, lalu ia pun mencintai apa yang dikerjakan dan kebutuhannya pun terpenuhi secara wajar.   Nah, dari kesemua rumusan tersebut di atas, sesungguhnya orang bisa mencapai tangga dan tingkat kepuasan dalam pekerjaan dan peran-perannya dari banyak sisi. Tidak harus selalu bahwa pekerjaannya itu sesuai dengan passion-nya.   Meski demikian ada perlunya kita mengingat agar &#8220;Kerjakan hal yang kita sukai maka tidak ada satu hari pun kita perlu bekerja&#8221;.  Karena semua yang kita lakukan seperti saat kita sedang menjalani hobby ataupun hal-hal yang menyenangkan hati.   Dari manapun jalan dan cara kita menuju kebahagiaan dalam berkarya dan bekerja tentu semangatnya adalah bahwa semua itu adalah sebuah journey; perjalanan mencapai YOUR PURPOSE OF LIFE; tujuan hidup kita. Bagaimana dengan Anda?   .:salamSpektakuler:.   (dituliskan kembali dari berbagai perenungan selama perjalanan Pontianak-Sambas 30 April-1 Mei 2012)   

 [99 Ideas for Happy Worker: Jalan Menuju KEPUASAN]

Ada yang menarik dari sebuah blog sahabat di tumblr. Diagram menarik itu kemudian saya gambar ulang dengan gaya khas saya tentu.

 Diagram himpunan irisan yang mengungkap sebuah ide besar tentang “bekerja” tentang “job”, “karir” dan tentu tentang diri kita masing-masing. Diagram ini seperti sedang bercerita pilihan-pilihan hidup, tentang bagaimana seseorang mengisi kehidupan ini dengan perannya masing-masing.

 Belasan tahun lalu (tentu ditambah sedikit beberapa tahun lalu) saya yang masih polos itu seringkali dengan penuh keyakinan menjawab “ingin menjadi dokter!” kala ada yang bertanya hendak jadi apa kelak. Alasannya? mungkin sederhana saja: terpandang, hidup nyaman dengan fasilitas yang ada karena memiliki penghasilan yang cukup besar, dan tentu akan menjadi kebanggaan orang tua.

 

Seiring kematangan jiwa dan pola pikir yang dipengaruhi lingkungan dan tempat dimana saya “tumbuh” kemudian pilihan cita-cita itu memudar. Lebih lagi saya diketahui sedikit phobia dengan jarum suntik dan hal-hal yang berbau “darah mengucur”.

 

Sederhana saja, dunia suntik menyuntik itu bukanlah “something that I love”. oke, saya tak akan banyak cerita soal diri, terlalu self-centric nanti. Walaupun ini blog pribadi tentu, sah-sah saja donk saya tulis tentang apa… hehe.

 

Kembali ke diagram temuan di atas. Sungguh saya sangat setuju, kebahagiaan seorang dalam mengabdikan dirinya pada sebuah profesi dapat terwujud ketika apa yang dikerjakannya itu merupakan irisan dari “what you do well”, “something that you love”, “something that the world needs” dan “something that the world pays for”.

 

Kalau sudah seperti ini tentu bekerja seberat dan sesulit apa pun tak akan terasa menjadi beban. Justru memberikan kenikmatan dan sensasi pencapaian yang luar biasa.

 

Pada kenyataannya, banyak sekali orang yang bekerja justru jauh dari hal-hal yang bisa dikatakan ia sukai dan bahkan ia merasa tidak cukup baik melakukannya namun karena ketidakadaan pilihan lain akhirnya ia tetap jalani. Alasan kelompok orang-orang ini mungkin karena keterpanggilan eksternal yang begitu kuat. Bukan dari dalam. Dan ini pula yang sering memunculkan dilema.

 

Tarikan eksternal itu diantaranya mungkin karena dorongan dan “paksaan” orang tua dan lingkungan, atau pun karena cara pandangnya tentang bagaimana ia memandang dan memahami soal atribut kebahagiaan.

 

Seseorang yang berjiwa seni, terpaksa tetap bekerja sebagai diplomat karena tuntutan kebutuhan untuk memenuhi hidupnya sementara seni yang ia geluti tidaklah mampu menopang kebutuhannya. Apakah kelompok ini pada akhirnya tidak bisa menemukan kebahagiaan dalam meniti peran-peran kerja dalam hidupnya? ah, saya rasa belum tentu.

 

Baik sebelum kita banyak diskusi lagi, mari kita telaah satu persatu istilah irisan 3 kategori di atas:

 

Fulfillment: pemenuhan; penyelesaian; pengisian; pengabulan; pengerjaan.

Contentment: kepuasaan; kesenangan; kesukaan.

Comfort: kenyamanan; kenikmatan; kepuasan; kesenangan.

Satisfaction: kepuasan; pelunasan; kegembiraan; penebusan; keyakinan.

(sumber: Google translate).

 

Tenyata dari ketiganya di atas memiliki irisan pengertian yang sama:KEPUASAAN, selain kata “fulfillment” yang diartikan dengan padanaan kata yang sedikit berbeda.

 

Namun pada buku Rene Suhardono berjudul “Your Job is Not Your Career” justru kata fulfillment juga diartikan  secara harfiyah sebagai KEPUASAAN, ketercapaian, kelegaan atau kelengkapan dalam berkarya.

 

Sehingga secara mudahnya kesemuanya sebenarnya memiliki makna yang hampir serupa, yaitu kepuasaan dalam bekerja dan berkarya menjalankan perannya masing-masing dalam hidup.

 

Fulfillment dirasakan oleh seorang engineer RAN saat bisa menormalisasi jaringan selular di suatu daerah dimana tak ada sinyal satu pun dari operator lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan komunikasi disaat-saat genting. Perasaan ini juga dirasakan saat seorang manager yang berhasil membimbing bawahannya dalam menuntaskan pekerjaan pentingnya. Atau juga perasaan yang dirasakan oleh seorang penggiat sosial dimana atas bantuan penyaluran infaq dari muzakki yang ia kelola telah mampu memberdayakan dan membuat seseorang menjadi mandiri secara ekonomi.

 

Baiklah,lebih lanjut mari kita mengutak-atik diagram di atas dengan rumusan matematis dengan sedikit membuat penyederhanaan istilah, maka akan kita dapati istilah:

 FULFILLMENT = PASSION + VOCATION

= (What you do well + what you love) + (what you love + what the world needs)

2x what you love + what you do well + wha the world needs

 

Sehingga fulfillment sebagai atribut tujuan yang dicapai dalam bekerja di sini lebih di dominasi karena pekerjaan dan peran serta aktivitas tersebut kita CINTAI.

 

CONTENTMENT = VOCATION + CHARITY

= (What you love + what the world needs) + (what the world needs + what the world pays for)

 

Maka dalam konteks contentment, kepuasaan yang diraih saat bekerja adalah karena lebih disebabkan oleh “sesuatu yang memang dibutuhkan orang”. Ia puas karena karyanya dan perannya diakui karena memang dibutuhkan, selain tetap bahwa ia pun mencintai pekerjaan dan apa saja yang dilakukannya tersebut.

 

COMFORT = CAREER + CHARITY

 = (what you do well + what the world pays for) + (what the world pays for + what the world needs)

 

Dari penyederhanaan rumusan di atas, orang merasa comfort saat ia bekerja di bidang yang dikuasai, dibutuhkan dan kemudian ia dibayar dengan lebih memadai. Dan poin terakhir ini mendapat porsi terbesar.

 

SATISFACTION = PASSION + CAREER

= (what you love + what you do well) + (what you do well + what the world pays for)

 

Dari rumusan di atas, kita dapati seseorang bisa memperoleh satisfactionketika ia bekerja di bidang yang dikuasainya dengan baik, lalu ia pun mencintai apa yang dikerjakan dan kebutuhannya pun terpenuhi secara wajar.

 

Nah, dari kesemua rumusan tersebut di atas, sesungguhnya orang bisa mencapai tangga dan tingkat kepuasan dalam pekerjaan dan peran-perannya dari banyak sisi. Tidak harus selalu bahwa pekerjaannya itu sesuai dengan passion-nya.

 

Meski demikian ada perlunya kita mengingat agar “Kerjakan hal yang kita sukai maka tidak ada satu hari pun kita perlu bekerja”.  Karena semua yang kita lakukan seperti saat kita sedang menjalani hobby ataupun hal-hal yang menyenangkan hati.

 

Dari manapun jalan dan cara kita menuju kebahagiaan dalam berkarya dan bekerja tentu semangatnya adalah bahwa semua itu adalah sebuah journey;perjalanan mencapai YOUR PURPOSE OF LIFE; tujuan hidup kita.

Bagaimana dengan Anda?

 

.:salamSpektakuler:.

 

(dituliskan kembali dari berbagai perenungan selama perjalanan Pontianak-Sambas 30 April-1 Mei 2012)


Backpacker on shoestring, Travel Warning: Pulau Temajo Dangerously Beautiful (part 2)

21 April 2012

Melakukan perjalanan ala backpacker ini sengaja saya pilih dengan beberapa tujuan diantaranya adalah:

  1. menguatkan fisik dan mental-jiwa anak, dalam menghadapi suasana dan kondisi yang tidak selalu nyaman
  2. melatih kepemimpinan dan leadership dalam mengelola hambatan dan rintangan serta kondisi yang tidak nyaman pada dirinya selama perjalanan
  3. melatih kesabaran dan keberanian
  4. membangun sweet memory dan kenangan berkesan dalam hidupnya.

Begitulah, setelah Zee menikmati sensasi menumpang angkot yang sempit, pengap dan sesak, perjalanan kami berlanjut dengan singgah di terminal Batu Layang. Terminal bis di ujung kota Pontianak ini tampak lengang dan sepi. Berbeda jauh dengan terminal bis di kota besar lainnya di Pulau Jawa. Bis yang tampak berjajar menunggu penumpang pun tak banyak. Saya hitung tak lebih dari 10 bis. Untuk trayek yang menuju ke arah Utara (Singkawang-Sambas dan sekitarnya) pun hanya satu buah bis lawas nan tak terawat. Sinar Baru namanya. Namun tak sama sekali baru.

Demikian wajah public transportation kita, no safety regulation being well implemented, no time (from-to) estimation, and no comfort at all. Namun kita memang tidak memiliki pilihan lain. Sehingga wajarlah jika orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Dan dalam jangka panjang inilah yang menyebabkan high cost pada alokasi subsidi APBN untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak.

Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya bis pun bergerak meninggalkan terminal. Perjalanan menuju ke Sei Kunyit hari itu memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. 

Tiba di pasar Sei Kunyit saya pun memutuskan untuk melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar jama’ dan qasar sebelum kami melaut menyeberangi Laut Cina Selatan.

12.40: Siang itu cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terik. Gelombang laut tenang. Hari yang baik untuk melaut.

Perahu kecil dengan panjang 9-10 meter, bermesin dompeng, bersuara khas memekakkan telinga itu pun melaju pelan meninggalkan dermaga kampung nelayan di Sei Kunyit.

Beberapa kali perahu bergoyang dihantam ombak dan riak-riak gelombang kecil. Semua terkendali dan aman. Zee menikmati acara melaut kali ini… 

Pulau Temajo termasuk pulau terdekat dari pesisir pantai, pulau ini juga termasuk dalam beberapa gugusan pulau-pulau di sekitar tepi pantai utara Kalimantan Barat di antara Pontianak-Singkawang. 

Perjalanan menggunakan perahu kelotok ini memakan waktu kurang lebih 45-50 menit. 

Pulau Temajo sendiri tidak memiliki penduduk yang bermukim secara menetap di situ. Pulau ini hanya menjadi tempat persinggahan nelayan dari Sei Duri dan sekitarnya, saat melaut untuk sekedar beristirahat dan mengolah tangkapan ikannya menjadi olahan lain seperti ikan teri asin yang cukup terkenal. Penduduk yang bermukim sementara itu hanya tinggal di beberapa bagian tepi pantainya. Di bagaian daratan yang landai dimanfaatkan juga untuk menanam cengkeh dengan sistem bagi hasil dengan pemilik sebagian besar tanah di Pulau ini, yang merupakan saudagar kaya di Sei Duri, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Bengkayang yang terletak tidak jauh dari Sei Kunyit ke arah Utara.

Pada spot-spot yang menarik dan memiliki pemandangan indah, berdiri beberapa rumah semacam cottage atau disebut juga villa. Ada yang bergaya tropis namun ada yang dibangun seadanya.

Gambar di atas merupakan cuplikan Pulau Temajo (sumber: Google Map), keterangan nama spot saya peroleh dari salah seorang nelayan yang kami jumpai di kampung nelayan yang terletak tidak jauh dari tempat kami bermalam.

Perahu kami bergerak dari sisi Selatan hingga akhirnya memutuskan untuk bermalam di kawasan Pasir Panjang. Teluk yang lebih landai dengan areal pantai pasir yang memanjang dan menghadap ke arah matahari terbenam dengan beberapa rumah nelayan berjejer di salah satu kawasannya.

Spot yang pas untuk melakukan berbagai aktivitas. Termasuk jika ada apa-apa kami bisa mudah meminta pertolongan dari warga pemukim sementara tersebut.

(Gambar Zee asyik berenang dan bermain air di pantai berpasir yang tenang)

(bersambung…)


Backpacker on shoestring, Travel Warning: Pulau Temajo Dangerously Beautiful (part 1)

Akhir pekan lalu, 21-22 April 2012 saya bersama si sulung, Ziyad (Zee, 6 tahun) memutuskan untuk melakukan short trip backpacker dan camping di tepi pantai sebuah pulau yang tidak jauh dari pesisir pantai utara bagian barat pulau Kalimantan.

Ini merupakan agenda bersama adik-adik  mahasiswa STKIP di Ma’had Labbaik yang sudah dicanangkan 2 pekan sebelumnya. 

Saya kemudian memutuskan juga untuk memilih moda transportasi umum dari kota Pontianak menuju ke Sei Kunyit. Salah satu kota kecamatan di Kabupaten Pontianak yang merupakan titik daratan terdekat menuju ke pulau Temajo.

Pilihan ini diambil demi memberikan pengalaman tersendiri bagi Zee yang belum pernah menggunakan public transportation di kota ini. Asal tahu saja, kota ini miskin  moda transportasi massal. Angkot jadul tahun 80-an dengan pintu bukaan di belakang masih beroperasi walaupun “senin-kamis”. Jumlahnya tidak banyak, serta kondisinya jauh dari nyaman dan tidak sampai malam. Saat sore hari saja mungkin beberapa ruas jalur sudah jarang ditemui adanya angkot, atau orang Pontianak mengenalnya juga dengan oplet.  

Pagi hari, Sabtu 21 April 2012, disaat sekolah-sekolah lain para pelajar sibuk menggunakan kebaya dan sanggul serta pakaian daerah—nggak tau apa hubungannya Hari Kartini dengan pakaian adat dan kebaya, apakah hanya karena ibu Kartini pakai kebaya di fotonya?— saya dan Zee bergaya petualang membawa tas ransel besar di punggung berisi pakaian ganti, sleeping bag, dan perlengkapan camping lainnya, sementara tas ransel kecil di punggungnya berisi bekal susu kotak, snack dan minuman.

Kami memulai perjalanan dengan menumpang ferry penyeberangan sungai Kapuas, diantar oleh istri dan kedua adik-adik Zee: Taqiya dan Tsabita.

Perjalanan kali ini memang khusus untuk laki-laki! hehe..

(gambar: Pelabuhan Dwikora Kota Pontianak)

3000 Rupiah untuk 2 orang sekali penyeberangan hingga di Siantan, Pontianak Utara. Dari terminal angkot kami kemudian menumpang jurusan Pontianak-Jungkat. 

Zee merasa tidak nyaman dengan suasana angkot yang panas, sumpek dan tentu berdesak-desakan. Yaaah.. khas Indonesia! 

Saya pikir ini merupakan pelajaran berharga bagi anak kami yang pertama ini. Walau sebenarnya ini bukanlah perjalanan backpacker-nya yang pertama. Beberapa tahun yang lalu kami pernah melakukannya tetapi di negara yang memiliki moda transportasi yang lebih baik: Malaysia, tepatnya di Kuching Serawak.

(bersambung)


Backpacker on shoestring, Travel Warning: Pulau Temajo Dangerously Beautiful (part 1)

Akhir pekan lalu, 21-22 April 2012 saya bersama si sulung, Ziyad (Zee, 6 tahun) memutuskan untuk melakukan short trip backpacker dan camping di tepi pantai sebuah pulau yang tidak jauh dari pesisir pantai utara bagian barat pulau Kalimantan.

Ini merupakan agenda bersama adik-adik  mahasiswa STKIP di Ma’had Labbaik yang sudah dicanangkan 2 pekan sebelumnya. 

Saya kemudian memutuskan juga untuk memilih moda transportasi umum dari kota Pontianak menuju ke Sei Kunyit. Salah satu kota kecamatan di Kabupaten Pontianak yang merupakan titik daratan terdekat menuju ke pulau Temajo.

Pilihan ini diambil demi memberikan pengalaman tersendiri bagi Zee yang belum pernah menggunakan public transportation di kota ini. Asal tahu saja, kota ini miskin  moda transportasi massal. Angkot jadul tahun 80-an dengan pintu bukaan di belakang masih beroperasi walaupun “senin-kamis”. Jumlahnya tidak banyak, serta kondisinya jauh dari nyaman dan tidak sampai malam. Saat sore hari saja mungkin beberapa ruas jalur sudah jarang ditemui adanya angkot, atau orang Pontianak mengenalnya juga dengan oplet.  

Pagi hari, Sabtu 21 April 2012, disaat sekolah-sekolah lain para pelajar sibuk menggunakan kebaya dan sanggul serta pakaian daerah—nggak tau apa hubungannya Hari Kartini dengan pakaian adat dan kebaya, apakah hanya karena ibu Kartini pakai kebaya di fotonya?— saya dan Zee bergaya petualang membawa tas ransel besar di punggung berisi pakaian ganti, sleeping bag, dan perlengkapan camping lainnya, sementara tas ransel kecil di punggungnya berisi bekal susu kotak, snack dan minuman.

Kami memulai perjalanan dengan menumpang ferry penyeberangan sungai Kapuas, diantar oleh istri dan kedua adik-adik Zee: Taqiya dan Tsabita.

Perjalanan kali ini memang khusus untuk laki-laki! hehe..

(gambar: Pelabuhan Dwikora Kota Pontianak)

3000 Rupiah untuk 2 orang sekali penyeberangan hingga di Siantan, Pontianak Utara. Dari terminal angkot kami kemudian menumpang jurusan Pontianak-Jungkat. 

Zee merasa tidak nyaman dengan suasana angkot yang panas, sumpek dan tentu berdesak-desakan. Yaaah.. khas Indonesia! 

Saya pikir ini merupakan pelajaran berharga bagi anak kami yang pertama ini. Walau sebenarnya ini bukanlah perjalanan backpacker-nya yang pertama. Beberapa tahun yang lalu kami pernah melakukannya tetapi di negara yang memiliki moda transportasi yang lebih baik: Malaysia, tepatnya di Kuching Serawak.

(bersambung)


Blog EntryMar 20, '12 10:43 PM
for everyone

Kemarin di media ramai soal Pak Menteri yang marah-marah dan membuka kemacetan di sebuah pintu tol. Menarik dan kemudian menjadi perbincangan yang hangat bagi netter, publik dan tentu media.

Sorenya saya pun sempat  menyaksikan tayangan di salah satu stasiun TV yang menghadirkan DIrut PT. JM, dimana juga relay telpon langsung dari Pak Dahlan Iskan yang saat itu sudah berada di Beijing.

Kasihan juga sang Direktur. Ia di-kramas secara langsung dihadapan jutaan pasang mata pemirsa di seluruh Indonesia.

Kritikan dan saran membangun bahkan cenderung menyudutkan meluncur deras dari sang menteri di seberang telpon. Dengan intonasi yang lugas, tuntas, tegas dan khas. Semua argumentasinya sangat beralasan.

Untungnya beberapa kali terputus atas alasan gangguan teknis. Namun tetap saja tiap kali bisa terhubung kembali sang Menteri kembali me-“nasehati” direktur PT.JM yang malang tersebut.

Saya perhatiankan mimic sang diruktur lebih pias dari biasanya. Beberapa kali menelan ludah dan mencoba menguasai diri. Terbayang jika saya yang berada di posisi beliau.

Pernyataan-pernyataan sang direktur kemudian terkesan defensive dan klise, memang. Standar dari orang yang terpojok. Walau dengan hormat saya pun mengakui bahwa sang direktur cukup gentle dan berjiwa besar menghadapi situasi ini. Dan berulangkali menyatakan kesiapannya untuk BERUBAH. Oke. That’s the point.

Dalam situasi seperti ini, kritik dan saran membangun bisa saja menjadi satu boomerang jika object dan subject tidak cukup dewasa menangani dan menanggapinya.

Bagi saya yang jarang menggunakan layanan dan fasilitas JM tentu tidak memiliki user experiences yang cukup.

Namun bagi rekan-rekan di Jakarta tentu soal layanan publik jalan tol ini memang sangat memprihatinkan.

Ada kenaikan tariff berkala, namun layanan sungguh seringkali mengecewakan. Bahkan dibeberapa Negara jika jalan tol sudah BEP (dari biaya pembangunan dan operasionalnya), justru kemudian di gratiskan.

Wajar saja sang menteri berang ketika pengguna masih harus bayar mahal tetapi tetap macet dan layanannya buruk. Bisa dibayangkan ada banyak transaksional yang terhambat atas keterlambatan dan ketidakprimaan layanan jalan raya ini.

Jika kondisi ini kita tarik ke ranah internal dan perusahaan kita tercinta maka setidaknya kita perlu banyak belajar tentang saluran-saluran

Komunikasi dan kritik serta saran membangun ini agar benar-benar konstruktif dan bukan malah destruktif.

Sikap legowo, jiwa besar dan kemauan adalah kuncinya.

Ya… sekali lagi KEMAUAN untuk berubah menjadi satu kata kunci yang kemudian harus diikuti dengan ACTION!

Seribu janji tidak akan berarti tanpa ada satu inchi langkah kecil mewujudkannya.

Selain itu, kritik yang disampaikan juga tentu harus tepat sasaran dan efektif.

Kita mungkin salut dengan gaya authentic Leadership dari Pak DI, ini.  Unik dan tiada duanya.

Sebagaimana juga kita harus respek bahwa ada banyak gaya lain yang mungkin bisa lebih santun dan lembut. Atau bahkan mungkin justru ada yang lebih beringas darinya. J

 

Sehingga tentu kita sadar gaya atau style dari leader kita dalam meng-gas dan meng-kramas diri kita agar lebih perform bukan menjadi sebuah perdebatan yang menghabiskan energi yang seharusnya kita gunakan untuk melakukan perbaikan yang lebih substansif.

Lakukan saja selama itu adalah KEBAIKAN.

Dan jika ternyata sang pemimpin hanya bisa mengkritik tanpa memberikan keteladanan? Cukupkanlah itu sampai di sana saja.

Dan mari kita belajar agak kelak ketika kita memimpin bisa melakukannya dengan keteladanan dan lebih baik darinya.

 

Wallahu’alam.

.:salam spektakuler:. 


Blog EntryMar 13, '12 7:14 PM
for everyone
26 trilyun byte per hari data berhamburan melalui banyak piranti elektronik diantara kita. Dari perangkat sensor hingga ke telepon genggam pintar kita. Ada sekurang-kurangnya 1 milyar status twitter dan 30 milyar pesan facebook dalam satu bulan. Inilah era luapan data dan informasi di sekitar kita.

Di pagi hari sejak kita bangun, dengan mudah rumah kita dijejali informasi tentang artis A apakah sudah pacaran apa belum? Atau kapan duda keren Anang menikahi Ashanti? Dan segudang info yang 'gak penting-gak bermanfaat' bagi kehidupan kita, melainkan hanya sekedar menghabiskan energi dan perhatian kita.

Maka betapa pentingnya diri ini memiliki filter guna menyaring dan membendung junk-information yang meluap-luap tersebut. 


Karena sesungguhnya kita itu akan dibentuk pula sesuai dengan informasi yang kita konsumsi sehari-hari. "You are what you eat."

Saatnya kita meninggalkan kebiasaan kita menjadi dumb sponge yang menyerap semua air yang ada disekitarnya. Tak peduli bersih atau kotor airnya. 

Guru saya pernah mengingatkan pada 3 tingkat pertanyaan tentang berita dan info-info yang berseliweran di sekitar kita:
1. apakah berita itu benar atau hanya isapan jempol. Akurat? faktual?
2. Jika benar, apakah kita perlu mengetahuinya?
3. jika perlu, seberapa besar manfaat dan kegunaannya bagi kita?

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra:36)

Fenomena luapan data ini mengajarkan kita untuk mampu memilah-milah informasi mana yang baik untuk dunia kita juga untuk akhirat kita. Termasuk di dalam dunia kerja dimana banyak beredar informasi-informasi yang terkadang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita namun telah menguras energi dan perhatian kita.

.:salam spektakuler:.

Adakah rasa cinta bersanding dengan benci?
Ah rasa-rasanya koq sepertinya tidak ada ya?

Mario Teguh pun punya definisi bahwa benci itu sendiri bisa diartikan sebagai "benar-benar cinta". Karena biasanya orang yang benci kepada seseorang itu rentan suatu saat akan berbalik dan mencintainya? Benarkah?

Seorang bijak pernah berkata:

Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan menjadi orang yang kaucintai.


Kali ini mari kita beranjak ke beranda pemahaman yang sama, bahwa ternyata antara cinta dan benci itu bisa seiring sejalan. Dimana? dan bagaimana?

Dalam islam, kita mengenal konsep Wala' dan Bara'.
Apakah artinya?

Al-Wala ini adalah al-bina (membangun) loyalitas berupa ketaatan, pembelaan, kedekatan dan kecintaan kita kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.

sedangkan Al Bara' adalah pengingkaran, permusuhan, pemisahan, dan kebencian pada apa-apa yang mengarah kepada kemusyrikan.

Maka sejatinya Al Wala' dan Bara' atau dalam artian bebas kita: Cinta dan Benci itu ternyata bisa sejalan beriringan sebagai penguat dari rasa keimanan kita.

لا إله إلا الله
  1. La ilaha (tidak ada ilah) = penolakan semua ilah (al-bara')
  2. illa-LLAH (kecuali Allah saja) = penetapan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang benar --> al-wala
Bagaimana pemaknaannya dalam interaksi dalam rumah tangga dan cinta-sayang kita kepada pasangan hidup kita?

Tentu sekali lagi kita akan kembali kepada pemahaman bahwa cinta dan benci kita adalah atas dasar cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta di atas cinta; cinta dalam cinta.  #eaaaa.

Ketika suami menegur keras atas tabiat yang kurang baik dari istri, tentu itu adalah bagian dari cintanya kepada kebaikan. Begitu juga ketika istri mengingatkan suami, maka itu dilakukan sebagai ekspresi cintanya kepada kebenaran. Bukankah pernikahan dibangun juga adalah dalam rangka membangun kualitas penghambaan menjadi kian purna? Hingga menikah pun sering disebut sebagai penggenap dien. Penggenap agama ini.

Sudahkah kita mampu meletakkan rasa cinta dan benci kita pada posisi dan kadar yang proporsional? Sudahkan kita ekspresikan kebencian kita dalam rangka membesarkan cinta kita pada pasangan dan pada-Nya?


.:salam spektakuler:.


Blog EntryMar 12, '12 2:36 AM
for everyone
"Cinta, kamu sama kayak teknologi, sama sama melengkapi hidupku. "
"Cinta, kamu itu kayak bluetooth, kita tidak bisa jauh-jauh..."

#eaaah.

Dalam sesi perjalanan mengayuh tadi pagi, ada sebuah tausyiah yang begitu menyentuh soal cinta dari radio Mujahidin FM lewat telpon pintar saya. Ya.. cinta lagi cinta lagi.  

Saya pun mengayuh sambil tak lupa senyum-senyum sendiri. Tak terasa buliran keringat telah menganak sungai dari setiap pori-pori diseluruh tubuh. Ahh.. Pontianak begitu cerah pagi ini.

Bahasan yang tiada pernah selesai dibahas. Ribuan buku telah membahasnya, ribuan lagu dan puisi tercipta atas nama cinta, toh definisi dan cerita tentang cinta itu tak pernah akan usai sepanjang hidup manusia masih ada. Karena manusia itu sendiri pun hadir dengan perantara rasa cinta itu sendiri bukan?

Dari anas bin malik radliyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang barangsiapa memilikinya niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman: 
(1). Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lebih ia cintai daripada yang lainnya, 
(2). Mencintainya seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah ta’ala, 
(3). Benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah ta’ala menyelamatkan darinya sebagaimana ia benci dirinya dimasukkan ke dalam api neraka” 

Diriwayatkan Bukhori dalam kitab al-Iman, bab Halawatil Iiman 1/14 no. 16; dan Muslim dalam kitab al-Iman, bab Bayan Khisholi Man Ittashofa Bihinna Wajada Halawatal Imaan 1/48 no. 174, an-Nasa’I 8/470 no. 4901, dan Ahmad 3/103 no. 12025

Demikianlah, Iman dan cinta itu adalah pekerjaan hati. Keduanya memiliki karakter dan orbital yang nyaris sama. Cinta, sebuah kata yang indah didengar, manis diucapkan, nikmat dirasakan. Cinta adalah karunia dan rahmat dari Allah ta’ala yang Dia berikan dan Dia bagikan kepada manusia.

Sungguh beruntung bagi yang bisa mengecap manisnya iman atas sikap kita yang tepat dalam mengelola cinta dalam hati kita tersebut. 

Cinta yang ada merupakan bagian dari perjalanan menuju cinta-Nya.  Dan sungguh beruntung 
pula yang menjadikan ketaatan dan kepatuhan serta ketundukannya pada syariat sebagai bentuk cintanya kepada-Nya. 

Lalu kemudian cinta-nya pada seseorang atau pasangan hidupnya pun adalah semata-mata karena ia sang pujaan hati tersebut ,memiliki cinta yang sama pada Allah Tuhan semesta alam sebagaimana kita pula. Itulah cinta di atas cinta. Cinta di dalam cinta.



Sungguh aneh ketika seseorang memutuskan untuk bercerai atas dasar: AKU TIDAK MENCINTAIMU LAGI. Jangan-jangan memang ada yang salah dalam memaknai cintanya selama ini. 

Padahal harusnya semua dimuarakan pada satu saja: cintanya pada Allah itu bertambah hari demi hari atau justru sebaliknya. 

Sehingga akan lebih tepat jika seseorang memutuskan berpisah atas karena: "DIRIMU TAK LAGI MAMPU MENGANTARKAN SAYA UNTUK LEBIH MENCINTAI ALLAH DAN RASUL-NYA DI ATAS YANG LAIN".

Maka muaranya hanya dan hanya, bahwa: CINTA pada Allah dan Rasul-Nya harus terletak di atas cinta kita pada yang lain. Dan cinta pada yang lain itu adalah merupakan bentuk dan bagian kita mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Itulah cinta yang "manis". Ia bersalut iman dengan beraneka ragam rasa. Mungkin kadang pahit, namun bisa juga legit bukan kepalang. Bersabarlah menyemainya. 

.:salam spektakuler:.

Blog EntryMar 7, '12 4:50 AM
for everyone
"Cinta aku ke kamu punya tanggal kadaluarsa, tanggalnya tercantum di batu nisan aku nanti"
@MamadTomad  -- diambil dari anjinggombal.

Menjaga rasa cinta pada pasangan kita hingga akhir ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. 

Mungkin ini pula salah satu faktor pemicu tingginya angka perceraian pasangan muda yang belum lagi genap 5 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, dimana kemudian mereka memilih untuk berpisah. Padahal betapa banyak yg  sebelum menikah, mereka pacaran bertahun-tahun dalam rangka mencari kesesuaian, tetapi begitu menikah mereka justru mencari jalan untuk berpisah.

Maka mungkin ada benarnya apa yang disampaikan oleh Ust. Fauzil Adhim, bahwa yang  harus kita cari bukan semata cinta. Di ruang konsultasi betapa banyak pernikahan  yg modalnya cinta tok, hasilnya penuh duka. 

Sehingga pernikahan memang pada akhirnya merupakan jalinan komitmen yang dibangun di atas visi dan misi pernikahan. Sedangkan cinta adalah perekatnya.Sekali lagi, "sedangkan cinta adalah perekatnya". Sebagaimana perekat, ia memang perlu selalu dijaga. Harus ada gaya tolak dan tarik yang membuat rasa cinta itu tetap seimbang pada titik beratnya. Kadang perlu disemai, disiangi, disinari, dicuekin ataupun diguyur hujan sekalipun. aaah.. cinta oh cinta....

Rutinitas memang kadangkala membunuh kreatifitas dan sensasi suasana hati yang penuh warna. Berbunga-bunga. Tak ada kejutan-kejutan. Kemudian semua terasa hambar.

Bijak sekali pepatah arab mengatakan: Katsratul misaas tudzibul ihsaas, terlalu banyak merasa menghilangkan cita rasa.

Karena sudah menjadi kebiasaan, kata-kata "aku cinta padamu" diawal hari saat berpamitan dengan istri lama-lama akan hambar bak tak bergaram rasa, apalagi kita tidak pernah melakukan variasi ataupun mungkin membuat pola sesekali ataupun berkala rentang waktu. 

Padahal kadangkala memang kita perlu mengeksrepsikan rasa cinta dengan setangkai bunga atau sebait puisi sekelas karya Sastrawan Supardi Djoko Damono ataupun mungkin dengan rayuan gombal ala ABG. Ah, tentu anda lebih pandai dari saya soal ini... hehe.

Walaupun sudah diusahakan ternyata kadang kita  tetap sulit membangun variasi dalam menjaga orbital cinta kita itu. Sibuk, rutinitas, amanah, problematika dan bahkan persoalan perhatian pada anak membuat pasangan suami-istri menjadi kian renggang dan sungkan membangun kemesraan; ataupun bahkan lupa sama sekali.

Maka menepilah sejenak.

Dan ternyata menjaga rasa suka kepada pasangan adalah dengan mengingat berbagai kebaikan pasangan. Fokus melihat sisi positif, sisi kelebihan, sisi kebaikan pasangan yang ada pada pasangan. Kenyataannya, setiap hari pasangan hidup kita melakukan sangat banyak perbuatan baik kepada kita, sejak bangun tidur di pagi hari hingga berangkat tidur lagi di malam hari. Begitulah nasehat Ust. Cahyadi Takariawan dalam sebuah sesi seminar keluarga.

Sangat banyak perbuatan baik yang dilakukan pasangan kepada kita, namun karena dilakukan setiap hari maka dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Istri memasak setiap hari untuk keperluan keluarga dianggap hal biasa. Bahkan sebagian suami menganggapnya sebagai kewajiban, bukan kebaikan. Suami yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah adalah kebaikan. Namun karena itu yang menjadi kegiatannya setiap hari, maka dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar saja. Bahkan sebagian istri mengatakan, itu bukan kebaikan karena memang menjadi kewajiban para suami untuk melakukannya.

Apa yang sering membuat kita kelilipan?
Debu kecil yang masuk ke mata, bukan?

Begitulah, kita sering fokus pada masalah kecil yang kita anggap kekurangan pasangan, hingga kita melupakan banyak kebaikan pada dirinya. Jika mata kita ditutupi oleh kekurangan pasangan, maka kita tidak sanggup melihat berbagai kelebihan yang dimilikinya.

Nah, masih mau kelilipan terus matanya?

.:salam spektakuler:.

ditulis sambil menghitung kebaikan istri di rumah..
Jazakillah Cutde, atas teh manis kentalnya tiap hari. #eh.


Blog EntryMar 2, '12 3:07 AM
for everyone
Suami : Kenapa malem ini gelap banget ya
Istri : Mendung kali bang
Suami : Kayaknya nggak dech
Istri : Trus napa bang?
Suami : Soalnya bulannya sedang menerangi & menemaniku disini
  (backsound: Ngeeeks.)

Suami : Kemarin aku liat ada 1000 bintang di langit
Istri : Ah yang bener??
Suami : Iya bener, tapi sekarang tinggal 998 bintang…
Istri : Lho…kow bisa ilang dua?
Suami : iya 2 bintang yang ilang itu ternyata ada di dalam mata kamu
                  (sambil liat matanya dalam2)
~Yaa Salaaam... lunglai langsung tu tungkai istri. Lemes 'klepek-klepek'

Suami : Ummi tahu apa definisi dari indah ??
Istri : Mm..yg jelas indah itu cantik…
Suami : well bener sih, tp menurut Abi …
  indah itu adalah saat dimana kita ngga merasakan sedikit pun keburukan di 
  dalamnya ..
  Umi pernah ngerasain yang begitu ???
Istri : mungkin kalee ya
Suami : Kalo Abi sering banget…dan itu adalah saat…..diriku bersama dengan dirimu
Istri : *Aaaaa...

Istri : Bang mau pergi kemana?
Suami : Punya istri satu aja bahagia begini, bagaimana kalau dua yaaa?
Istri :  Apppaaaaa? (*lempar tabung gas 12 kg)


Di sana gunung di sini gunung, begitulah kisah ini bermula.

Sering canda-canda dan gurauan antara suami-suami seusia kini adalah soal POLIGAMI. Suatu bahasan yang tidak pernah mati, selalu menimbulkan pro dan kontra.

Siapa laki-laki yang tidak memiliki kecenderungan ke arah sana? Atau kalaupun tidak kecenderungan, katakan saja sebagai "potensi" atau "ancaman" ke arah sana? 

Betapa pun lelaki itu setipe dengan Kla Project yang "tak bisa pindah ke lain hati" toh secara naluriah lelaki itu sebenarnya mampu membagi cinta-nya.

Masalahnya tinggal "mau atau tidak". Lalu kemudian berubah menjadi "bisa atau tidak."

Sementara itu, di sisi perempuan; siapakah perempuan yang bisa dengan rela serta merta menikmati posisinya "di-dua-kan", "di-tiga-kan" atau bahkan "di-empat-kan"? Sepaham apa pun tentang syariat dibolehkannya poligami dalam Islam ini, seorang perempuan sekelas ustadzah pun akan berat dan tak mudah menjalaninya.  Sungguh saya tidak bohong.

Begitu pun pengalaman seorang aktivis dakwah yang saya kenal. Pada saat ia mengizinkan suaminya menikah lagi dengan seseorang perempuan yang berusia hampir lebih muda separuh usianya kini atas dasar faktor keinginan untuk memperoleh keturunan, nyatanya meski ia sendiri yang membukakan jalan perjodohan, ia pula yang begitu tegar mengantarkan sang suami dalam proses ta'aruf-nya, pada akhirnya pun tak kuat pula didera rasa "sakit" dan keterhempasan. Luka yang tak ia kehendaki tetap saja muncul.

Begitulah rasa cinta memang mengajarkan kita tentang sebuah "pengorbanan". Itulah cinta yang membangun bukan menghancurkan. Maka ketika sang suami harus berbagi cinta, bukan berarti ia hendak menghancurkan dan men"jatuh"kan cintanya pada sang istri pertama, namun inilah cara ia memahami makna dan ekspresi mencintai karena Allah SWT.

Bukankah mencintai itu seperti ekspresi iman kita? Ia akan melampau rasa suka dan tidak suka.
 
Sebagai seorang muslim kita diminta untuk mencintai jihad di jalan Allah, namun siapa yang suka ketika jihad itu mengharuskan kita melakukan pengorbanan harta, jiwa dan raga? Hampir semua tentu berat melakukannya bukan? namun bagi mereka yang luapan cintanya merupakan ekspresi keimanan yang lurus maka jihad itu kemudian menjadi indah. Meski tidak ia sukai.

Pun bagi sang suami, mudahkan berlaku adil?

Sedangkan baginda Nabi yang kualitas akhlaq-nya begitu sempurna saja masih saja lebih besar kecenderungannya pada Ibunda Aisyah ketimbang istri-istrinya yang lain, walaupun cintanya pada Khadijah tak pernah tergantikan. 

Demikian memang, adil membagi cinta itu memang sulit. Adil yang menjadi persyaratan adalah adil dalam segi materi dan waktu. Begitulah syariat mengajarkan. 

Soal hati? ah... lagi-lagi itu rahasia Allah.

Sebagaimana syariat POLIGAMI itu sendiri. Ia seakan-akan hadir sebagai sebuah rahasia. Tentang cara Allah mengajarkan manusia dalam memahami cinta sejati. Bahwa cinta tidak selalu tentang rasa memiliki, atau menguasai. 

Jika bertemu dan mencintai karena Allah, maka tentu kita harus bersiap untuk berpisah atau berbagi karena Allah SWT.

Begitulah katanya...

Poligami itu mirip seperti hukum sentripetal dan setrifugal. Keduanya merupakan gaya antitesis yang saling berlawanan untuk menjaga konsistensi gerak melingkar sebuah benda sehingga ia tetap beredar pada orbitalnya.

Begitulah poligami selalu ada pro dan kontra. Agar kita semua, baik suami maupun istri mampu menjaga konsistensi posisi cinta kita tetap melingkar pada orbital sejatinya.

POLIGAMI bagi Laki-laki

Bagi suami, poligami mengajarkan bahwa cinta itu berarti tanggung jawab, amanah, kepemimpinan, dan keadilan. Tanggung jawab dunia dan akhirat. 

Kepemimpinan yang kelak dimintai pertanggungjawabannya. Sebuah cermin untuk mengukur bahwa kita-kaum laki-laki ini, apakah seperti matahari atau lilin kecil nan redup yang mudah ditiup angin malam. Bagaimana hendak memanaskan tungku jika diri sendiri kecil nan mudah padam?

Jangan sampai poligami karena hendak menyelamatkan janda namun justru menghasilkan janda baru. 

Sebagaimana seorang guru saya, Ust. Cahyadi Takariawan; yang lebih menganjurkan untuk bahagia dengan satu istri saja. Meski poligami pun berarti membuka pintu ladang amal baru. Ladang amal membangun kesabaran seluas samudera Hindia-Pasifik yang isinya juga penuh dengan hiu-hiu yang bergigi tajam.. hehe...


POLIGAMI bagi perempuan

Sementara itu, poligami bagi istri adalah sarana untuk kembali memahami bahwa cinta itu bukan harus memiliki, menguasai, memonopoli dan atau ke-posesif-an yang membabi buta. 

Bahwa cinta itu kadang memang melampaui rasa suka dan tidak suka. Karena cinta memang harus tumbuh dan tumbuh selalu menuju kepada kebaikan. Apakah poligami itu akan menjadi pintu kebaikan bagi suami-nya dan seluruh keluarga atau tidak?

Jangan katakan cinta atas nama egoisme dan keakuan. Sungguh mari kita berhati-hati tentang ini.

Inilah kisah tentang bagaimana memaknai cinta sebagai pengorbanan untuk memperoleh kebahagiaan yang lebih hakiki. Bukankah di dunia ini kita hanya sementara? 


Jadi, apapun langkah dan pilihan yang diambil, maka semuanya perlu kita muarakan pada satu pertanyaan besar: apakah keputusan itu akan membawa kita kepada tujuan pernikahan: SAKINAH, MAWADAH dan RAHMAH? Pada keberkahan (kebaikan yang terus bertambah) atau justru sebaliknya menuju keimanan yang terjun bebas??

Apakah pilihan itu kemudian bisa menjadikan pernikahan itu sebagai pintu menuju surga di dunia dan juga tentu di Akhirat?

Atau....

-wallahu'alam-


Blog EntryMar 2, '12 1:57 AM
for everyone
Dalam sebuah kelas bahasa yang sedang saya ikuti, saya memperoleh satu informasi penguat tentang metode yang paling efektif dalam belajar. 



Ternyata 90% pelajaran akan terserap jika kita mau membangun semangat "to teach". Benar kata baginda nabi, "sampaikanlah (ilmu) walau hanya seayat."

Sering kali kita menolak mengisi sebuah acara kajian atau seminar lebih karena merasa kurang pantas dan tidak menguasai. Padahal jika ini kita jadikan pemantik api semangat belajar, maka hasilnya tentu di luar dugaan. 

Saya sendiri sering menuliskan kembali banyak hal yang sedang saya baca dan pelajari dengan gaya sendiri dan beberapa poin tambahan buah pikiran dalam halaman blog, sosial media maupun milist, mulai soal parenting, keluarga, motivasi, traveling, maupun lainnya adalah semata-mata untuk menginternalisasikan ilmu tersebut menjadi sebuah pemahaman yang mendalam. Bukan karena sudah fasih apalagi menguasainya. Bukan! 

Lebih lagi, tentu berharap ia bisa menjadi amal jariyah: ilmu yang bermanfaat.

The Power of Giving, The Power of Sharing

Begitulah, jika kesedihan kita bagi maka ia akan berkurang mendera, sementara jika kebahagiaan kita bagi maka ia akan bertambah meluah. 

Demikian pula jika ilmu  kita bagi dan ajarkan kepada orang lain, alih-alih ia berkurang, justru ilmu akan bertambah dan bertambah. 

Maka, sudahkah anda "belajar dan mengajarkan" hari ini?

.:salam spektakuler:.

Blog EntryFeb 27, '12 8:47 PM
for everyone

Co: Neng, taukah kamu sebesar apa cinta abang pada Neng?

Ce: Setinggi gunung sedalam lautan ya Bang?

Co: ah... Nggak koq. Cinta abang cuma seujung kuku.

Ce: Yaaaah.. Abang... Koq gitu sih... (sambil bibirnya manyun 5 cm)

Co: Iya donk... Biar tiap jumat dipotong, dia akan selalu tumbuh dan tumbuh... (prikitiw)

Ce: Aaah... Abang.. Bise ajeeeeee.

 

 

Di sana gunung di sini gunung, begitulah tulisan ini bermula.

 

Kadang kala kita memang perlu mengingat satu petuah: “Cintailah pasanganmu secukupnya dan seutuhnya”. Sebab, telaga cinta manusia pasti akan kering suatu saat kelak. Ia tak mungkin abadi, bahkan jika kau dokumentasikan cintamu semewah Taj Mahal sekalipun.

 



Pernikahan telah menyingkap tabir rahasia pasanganmu. Bagi suami, ternyata istri yang engkau nikahi tidaklah semulia Khadijah yang rela berkorban seluruh hartanya untuk dakwah suaminya. Tidak pula setaqwa Aisyah yang menutup malam dengan tahajud dan siang dengan infak dan sedekah. Tidak pula setabah Fatimah ketika Ali bin Abi Thalib, suaminya, membagikan persediaan makanannya untuk fakir, miskin, janda dan tawanan perang hingga Allah turunkan ayat sebagai pengabadian cinta mereka, “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS Al-Insan 9)

 

Disebabkan oleh cinta, sadarlah engkau bahwa istrimu hanyalah wanita pada umumnya. Ia yang punya cita-cita dunia, ingin rumah, kendaraan, perhiasan dan berbagai gadget terbaru untuknya. Pernikahan telah mengajarkanmu kewajiban bersama. Istri menjadi tanah, engkau langit yang menaunginya. Istri ladang tanaman, engkau pemagarnya. Kala ia tengah teracuni, engkau harus menjadi penawar bisanya.

 

Maka, ketika cinta telah terpatri di buku nikah, Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk mendoakan sepasang kekasih itu, “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, keberkahan ke atasmu dan mempersatukan keberduaanmu dalam kebaikan. Satu dalam dua  adalah ibadah; bercumbu ibadah, mencari rezeki ibadah,  tersenyum ibadah, bahkan saling meremas jemari pun ibadah. “Meremas jari-jemari istri menggugurkan dosa-dosa kecilmu!”

 

Cinta dan kepribadian merupakan dua kata yang sama-sama saling tumbuh dan berkembang. Seorang pecinta sejati tahu bahwa mencintai adalah pekerjaan jiwa dalam mengatur gagasan, emosi dan tindakan. Dia tahu mencintai adalah pekerjaan yang membutuhkan keputusan yang besar. Karena mencintai itu adalah bagaimana kita dapat memberi sesuatu kepada kekasih yang kita cintai.

 

Hakikat cinta hanya bagaimana kita memberi pada kekasih yang kita cintai. Memberikan dengan penuh ketulusan. Bagaimana kita dapat selalu memperhatikan dirinya dalam penumbuhan dirinya. Memberikan semangat pelayanan dalam penumbuhan kepribadian dirinya. Merawat dengan kebajikan di setiap aktivitas kehidupannya. Dan melindungi dengan keberanian agar kekasih yang kita cintai dapat selalu tenang dan bergantung dalam kebersamaan dengan diri kita.

 

Sayap cinta yang tak pernah patah. Hanya seorang pecinta sejati yang tak pernah mematahkan sayap cintanya. Karena kasih yang tak sampai tak pernah menyurutkan rasa mencintai dirinya kepada orang yang dikasihi.

 

Kecewa pada pasangan, dan bahkan mungkin pertengkaran hebat atas ketidaksepahaman dan perselisihan mungkin saja kerap terjadi. Namun apakah dengannya menyebabkan kita memiliki alasan untuk "memutarbalikkan-badan" dan memutuskan ikatan perjanjian yang telah kuat kita patrikan di atas sajadah meja ijab kabul dihadapan wali dan saksi majelis pernikahan yang didoakan para malaikat?

 

Memang pada akhirnya istilah jatuh cinta sebenarnya kuranglah tepat bagi orang-orang yang bercinta di taman-taman cinta dalam naungan cintaNya, melainkan kata "membangun" cintalah yang lebih tepat.

 

Membangun cinta adalah sebuah kata kerja. Dan mencintai memanglah kata kerja yang menuntut amal pembuktian. Betapa pun kurangnya pasangan kita, ataupun betapa judes dan ketusnya istri misalkan, toh Umar bin Khatab ternyata memilih beringsut diam tatkala sang istri "menyemprotnya". Padahal siapa yang tidak kenal ketegasan dan kewibawaan sang khalifah kedua ini. "Karena dari rahin mereka-lah anak-anak kita dilahirkan" jawabnya menutup keheranan sahabat yang mengetahui kejadian tersebut. Begitulah ia mengajarkan tentang bagaimana kita seharusnya bisa tetap memuliakan perempuan pemantik sumbu cinta di rumah kita itu. Dan bukan karena Umar telah menjadi salah satu anggota suami-suami takut istri!

 

Jikalau ternyata perjalanan dan kebersamaan itu memang harus berakhir, maka hendaknya atas karena dan untuk Allah jua-lah jalan darurat itu ditempuh. Karena sesungguhnya atas izinNya lah kita berjumpa dan berpisah sebagaimana ciri orang-orang yang kelak mendapatkan naungan di yaumil akhir.

 

Usah risau, pada kenyataan serupa itu, karena perkara kita bukan untuk abadi dalam cinta antar manusia, tetapi cinta itu adalah pantulan cinta kita pada pemilik cinta sejati, Allah yang Maha Tinggi. Karena cinta bisa juga sebagai ujian selain juga sebagai sebuah anugerah. Jika cinta datang karena-Nya, maka bersiaplah meninggalkannya karena-Nya

 

Cinta juga bukan juga menyempit maknanya pada kata "pilihan" dan juga kata "memiliki". Karena cinta memang tak selamanya harus memiliki. Sebab cinta adalah kata kerja untuk bisa memberikan kebahagiaan kepada orang yang kita cintai. Sehingga seharusnya kita pun bisa bercermin bagaimana Salman Al-farizi begitu berjiwa besar mendukung pernikahan sahabatnya Abu Darda dengan gadis yang semula hendak dilamar dan dinikahinya. Subhanallah...

 

Maka, tolak ukurnya adalah, apakah kebersamaan itu akan selalu bisa menelurkan kebaikan-kabaikan diantara kedua pasangan itu atau justru sebaliknya? Kebersamaan yang harusnya mampu meningkatkan ketaatan, kesyukuran dan keinsyafan sebagai hamba. Dan bukan sebaliknya.

 

Jika tidak? Masih ada waktu untuk terus berbenah. ..

 

Wallahu'alam.

Ditulis kembali dari berbagai sumber.



Blog EntryFeb 21, '12 1:34 AM
for everyone

Saat ini kita sedang memasuki dunia branding. It's a new brand world, begitu kata seorang Country Director The Brand Union.

Mulai dari product branding, nation branding, hingga personal branding.

Brand adalah nama yang bermakna! Dan ia bicara soal karakter, harapan masa depan (visi-misi), idea, value dan citra dari sebuah entitas. Termasuk di dalamnya adalah logo.

Sebagai salah satu orang yang mengawal berdirinya Formiskat, saya mempunyai tanggung jawab bagaimana menjaga spirit dan nafas dari komunitas ini. Sadar memang, energi sering habis, lebih semata karena diri masih perlu belajar dan belajar.

Forum silaturahim muslim perkantoran Pontianak ini bercita-cita membumikan nilai-nilai Islam di lingkungan kerja, dimana dakwah sebagai seruan menuju kebaikan juga harus menyentuh lini sektoral di meja kerja dan karya nyata kita.


Profesional-Ukhuwah-Prestasi merupakan bagian top mind kami--kita semua, untuk mengaktualisasi kesempurnaan Islam di mana pun berada, melalui akhlak mulia cerminan dari motivator sejati: fathonah, amanah, siddiq dan tabligh.

Mungkin orang bisa bilang apalah arti sebuah nama. Juga soal logo.

Tetapi bukankah Nabi mengajarkan bahwa nama adalah doa. Maka izinkan saya pun menyatakan hal yang senada. Logo adalah nama. Ia adalah identitas dan cita-cita.

Beberapa waktu malam lalu, selepas beberapa kesempatan saya mencoba mengutak-katik kembali logo Formiskat. Dari soal bentuknya, warna hingga logogram ataupun signature. 

Formiskat atau dikenal juga sebagai Forum Silaturahim Muslim Perkantoran Pontianak, sendiri merupakan organisasi informal nirlaba yang telah 6 tahun lebih kami dirikan bersama beberapa teman yang memiliki pandangan sama tentang pentingnya dakwah di sektor perkantoran. 

Begitulah, organisasi itu seperti sebuah organisme hidup. 

Ia tumbuh dan tumbuh berubah fase dari satu bentuk ke bentuk yang lain. 

Sifat dan karakter organisasi akan berubah dalam rentang waktu berjalan. Karena perubahan waktu biasanya juga mengantarkan pada perubahan kondisi dan situasi lingkungan di sekitarnya. Akhirnya transformasi memang mutlak terjadi.

Jadi re-born, re-strukturisasi dan re-posisi itu penting untuk menciptakan aliran kreativitas, inovasi dan adaptasi pada setiap perubahan (change). Termasuk di dalamnya bagi sebuah organisasi, dan termasuk di dalamnya adalah perusahaan tempat saya saat ini bekerja.  :) So, mari bersiap-siap untuk berubah!


Let's Move, let's change.

Blog EntryFeb 15, '12 7:15 PM
for everyone


Sulit bangun pagi, malas ke kamar mandi, mogok sekolah dan segudang problematika lainnya adalah pemandangan yang rutin di rumah pasangan muda dengan anak-anaknya yang berusia di awal-awal sekolah.

Mungkin ini jadi cerminan bahwa sekolah memang bukan tempat yang menyenangkan bagi anak-anak, dan atau bisa juga merupakan kegagalan orang tua dalam membangun motivasi sekolah yang membara bagi anak-anaknya...

Apapun itu, sumbu pendek dan angry habit hanya akan memperburuk keadaan, right?

Solusi sederhana adalah perlu sebuah kesungguhan kita dalam memberikan perhatian dan asistensi yang utuh bagi anak-anak kita saat mengawali harinya, karena jangan-jangan penyebabnya justru orang tua nya yang morning blues....

:-D
Mari berbenah...


Blog EntryFeb 14, '12 2:50 AM
for everyone
Tentu tak asing dengan nama beken Hermawan Kartajaya bukan? Guru marketing nomer wahid di Asia yang telah menjadi aset nasional dan bahkan telah mendunia.


Kemarin, 13 Februari saya sempat mengikuti seminarnya. Saya tidak akan membahas materinya yang begitu menginspirasi dalam tulisan kali ini. Saya hanya ingin berbagi  beberapa statemen yang terkunci di dalam benak dan ingatan saya, apakah itu?



Sebagai seorang Tionghoa dan penganut katholik ia berulang kali memuji tentang kesempurnaan ajaran Islam, dari soal sosok nabi Muhammad sebagai business-man yang bergelar Al Amien, hingga soal islamic banking system dimana ia pun menjadi salah satu konsultannya. Ia pun begitu fasih menguraikan prinsip-prinsip dan istilahnya yang mungkin kita sebagai muslim saja kita tak cukup hapal dan paham.

Ungkapan dan pujiannya terhadap nilai Islam tak hanya sekali bahkan berulangkali. Saya menangkap ini bukan sekedar retorika apalagi sebuah strategi marketing. Hehe. Semoga. Apalagi saya juga pernah membaca walau sekilas salah satu bukunya "Berbisnis dengan Hati" hasil kolaborasinya dengan Aa Gym beberapa tahun yang lalu. Bahkan karenanya kemudian saya beranggapan ia telah memeluk agama Islam.

Namun kemarin ia berulangkali tetap menegaskan bahwa ia tetap sebagai seorang pemeluk khatolik. Salut  atas semangat share dan open mind-nya terhadap prinsip-prinsip dasar yang dianut agama lain. Ini hal yang sangat patut dicontoh tentang bagaimana sebuah pencarian ilmu pengetahuan mampu melampaui soal sensitif yang kadang membuat orang rela saling baku hantam, bukan karena atas dasar yang dibenarkan, namun lebih atas dasar ego diri. Inilah contoh toleransi yang patut dilestarikan. 


Apa yang bisa kita tarik kesimpulan dari pernyataannya?

#1.

Orang Non Muslim saja mengakui akan kesempurnaan nilai-nilai dan ajaran Islam, mengapa kita sendiri sering ragu dan bimbang? under estimate? nggak Pe-De? malu-malu? atau bahkan enggan menunjukkan identitas kita secara nyata demi takut dibilang fanatik? Padahal beragama itu memang perlu fanatik. Perlu yakin bahwa agamanya memang benar.

Sering kita mencoba memisahkan secara parsial nilai Islam dengan sistem-sistem yang berlaku di seputar kehidupan kita. Merasa sungkan ketika Islam kita aklamasikan menjadi "It's my life" dan lebih senang pada prinsip-prinsip buatan manusia yang belum tentu benar dan tepat?

Masing senang pake bank konvensional karena repot dan segudang alasan permisif lainnya. Atau masih enggan pakai jilbab karena dipikir yang penting jilbabin hati dulu... #eh.

#2.

Orang bisa saja mengakui akan kesempurnaan dan keunggulan system Islam, namun kenapa tidak juga kemudian membuat ia berpindah keyakinan? 

Inilah salah satu rahasia dan hak prerogatif Allah, soal Hidayah. 

Kita itu hanya diminta untuk menyeru dan  mengajak kebaikan. Bukan agar orang lain mau menyambut panggilan kita. Bukan. Itu hanya efek samping. Seperti juga berbisnis, keuntungan itu hanya efek samping. Maka yang paling mendasar adalah kita sedang menjalankan sebuah perintah Allah.. itu saja.

Hal ini juga berlaku pada soal poin pertama (#1) di atas. Seperti juga bagaimana orang sudah sadar dan tahu kalau merokok itu tidak baik bagi kesehatan diri dan mendzalimi orang disekitar kita. Tetapi mengapa itu tidak membuat ia berhenti dari merokok?

Alasannya karena belum ada "klik" kesadaran yang menggerakkan untuk ia mau ber-TRANSFORMASI dan merubah diri. dan "klik" itulah Hidayah.

Lantas apakah kemudian "klik" (baca: hidayah) itu datang sendiri sebagaimana jatuh dari langit? Sekali lagi itu hak prerogatif Allah.

Dalam shiroh kita ingat bagaimana Umar bin Khatab yang begitu luar biasa bengis dan keras hati ternyata luluh dan kemudian masuk Islam menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga dan menjadi khilafah yang sangat mempengaruhi sejarah peradaban manusia--hingga M. Hart memasukkan ia ke dalam 100 Tokoh yang paling Berpengaruh di Dunia di atas Julius Caesar? Ternyata Umar bin Khatab masuk Islam melalui perantara mendengar bacaan Quran yang dibaca oleh kerabatnya. Dan itulah hidayah, datangnya begitu lembut dan berseliweran di antara kita, hanya kadang kala memang receiver kita saja yang kadang ditutupi oleh banyak obstacle.  

Maka upaya memperoleh dan mendatangkan hidayah itu termasuk perkara ghaib nan hanya Allah yang berkuasa atasnya. Kita ini hanya disuruh berusaha, ikhtiar dan berdoa. Kita bergerak saja satu langkah menuju kebaikan, mudah-mudahan hidayah itu datangnya berlangkah-langkah. Tentu atas izin Allah. La haulaa wa laa Quwwata illa Billaah.

Hidayah itu seperti ketika kita tahu bahwa sholat di awal waktu berjamaah di masjid itu lebih utama, dan kemudian kita mau menyambut kilatan bisikan kebaikan itu di dalam sanubari dengan memberantas rasa malas, enggan dan sungkan dengan satu langkah gerak kaki, Insya Allah.. sisa-nya biarkan jadi urusan Allah; tentu atas izin-Nya jua, kemudian meringankan hati dan fisik kita menyambut seruan-Nya.

Dan hidayah itu juga bisa saja hadir atas doa-doa nan rahasia yang dipanjatkan secara ikhlas dari orang-orang yang mencintai kita... untuk kebaikan dan kebaikan selalu.

Semoga...


Blog EntryFeb 10, '12 5:33 AM
for everyone
Dahulu polemik dan perdebatan soal hukum menggambar ini sempat menjadi kebimbangan tersendiri. Banyak hadist dan riwayat yang menerangkan bahwa aktivitas satu ini sangat dibenci oleh nabi.

Dan belakangan kebimbangan tersebut menyeruak kembali. 

Saya sejak kecil gemar dengan gambar karikatur dan komik. Hingga kini tak jarang di sela-sela waktu saya sering mencoret-coret di kertas atau di media lain. Ilustrasi-ilustrasi lucu seringkali menjadi penghias diantara tulisan-tulisan dan catatan saat sekolah hingga kuliah dulu. 



Dan kini, kegemaran coret-coret, membuat ilustrasi dan bahkan karikatur wajah sering saya lakukan dengan menggunakan smartphone dan atau laptop.

Akhirnya saya pun harus mengingatkan kembali  landasan hukum, bagaimana Islam memandang persoalan "menggambar" ini.

Berikut ini tulisan dari ust. Sarwat yang mengasuh rubrik tanya jawab di web site nya, layak menjadi satu rujukan.

---

Nash Tentang Gambar

Kami akan sebutkan nash-nash yang mereka sepakati keshahihannya, antara lain:

Hadits Pertama

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupkannya.’” (HR Bukhari).

Hadits Kedua

Seorang laki-laki datang kepada Ibnu ‘Abbas, lalu katanya, “Sesungguhnya aku menggambar gambar-gambar ini dan aku menyukainya.” Ibnu ‘Abbas segera berkata kepada orang itu, “Mendekatlah kepadaku”. Lalu, orang itu segera mendekat kepadanya. Selanjutnya, Ibnu ‘Abbas mengulang-ulang perkataannya itu, dan orang itu mendekat kepadanya. Setelah dekat, Ibnu ‘Abbas meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut dan berkata, “Aku beritahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Setiap orang yang menggambar akan dimasukkan ke neraka, dan dijadikan baginya untuk setiap gambarnya itu nyawa, lalu gambar itu akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.’” Ibnu ‘Abbas berkata lagi, “Bila engkau tetap hendak menggambar, maka gambarlah pohon dan apa yang tidak bernyawa.” (HR Muslim).

Kedua hadits di atasjelas sekali keshahihannya, karena diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya, dan juga oleh Al-Imam Muslim di dalam kitab shahihnya juga.

Namun di balik dari keshahihan sanadnya, para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana memahami hukum yang terkandung di dalamnya.

Kelompok Pertama

Dengan hadits-hadits semisal dua hadits di atas, para ulama yang bergaya tekstual mengharamkan semua bentuk gambar, apa pun jenisnya, termasuk komik, ilustrasi, kartun, bahkan wayang kulit, wayang golek dan semua yang sekiranya termasuk gambar.

Bahkan di tengah mereka, berkembang kalangan yang lebih ekstrim lagi, karena merekamemasukkan gambar yang dibuat dengan kamera foto juga termasuk gambar yang diharamkan. Sehingga mereka tidak mau berfoto dan mengatakan bahwa kamera adalah benda najis yang haram, karena menghasilkan citra gambar. Dan otomatis, televisi, video player, kameravideo, tustel dan apapun yang terkait dengannya, juga haram hukumnya karena merupakan media untuk melihat gambar.

Jangan kaget kalau menemukan tulisan yang agak 'keras', baik di buku-buku atau di beberapa situs. Memang begitulah pendapat mereka dan cara mereka memahami nash-nash tentang haramnya gambar. Kita wajib menghormati pendapat mereka.

Kelompok Kedua

Sedangkan ulama lain yang lebih moderat memahami hadits ini sebagai larangan untuk membuat patung, buka sekedar gambar di atas media gambar. Gambar yang dalam bahasa arabnya disebut dengan istilah shurah, mereka pahami sebagai bentuk patung tiga dimensi. Sehingga dalam pandangan mereka, hadits ini diterjemahkan menjadi demikian, "Siapa yang membuat patung dari makhluk bernyawa di dunia ini, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruhnya kepada patung itu di hari akhir."

Pendapat kelompok kedua ini didasari dengan konsideran hadits di atas dengan hadits berikut ini yang berisi perintah Rasulullah SAW untuk menghacurkan patung-patung.

Dari ‘Ali ra, ia berkata, “Rasulullah Saw sedang melawat jenazah, lalu beliau berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang mau pergi ke Madinah, maka janganlah ia membiarkan satu berhala pun kecuali dia menghancurkannya, tidak satupun kuburan kecuali dia ratakan dengan tanah, dan tidak satupun gambar kecuali dia melumurinya?’ Seorang laki-laki berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ ‘Ali berkata, “Penduduk Madinah merasa takut dan orang itu berangkat, kemudian kembali lagi. Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak aku biarkan satu berhala pun kecuali aku hancurkan, tidak satupun kuburan kecuali aku ratakan, dan tidak satu pun gambar kecuali aku lumuri’. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa kembali lagi membuat sesuatu dari yang demikian ini, maka berarti dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.’” (HR Ahmad dengan isnad hasan).

Sedangkan lukisan di atas kanvas, kertas, kain dan semua yang dua dimensi, tidak termasuk yang diharamkan oleh hadits ini, dalam pandangan kelompok ini.

Pendapat ini pun berkembang di tengah para ulama muslim dunia, dan pendapat ini tentu berbeda dengan pandangan kelompok ulama yang pertama. Jadi memang sekali lagi kita menemukan para beberapa titik ada perbedaan dalam memahami nash-nash yang mereka sepakati keshahihannya.

Yang Disepakati Keharamannya

Namun demikian, kedua kelompok yang berbeda pendapat di atas, ternyata mereka bisa sepakat juga dalam banyak hal terkait dengan hukum gambar. Tidak selamanya mereka harus berbeda pendapat, banyak titik di mana mereka bersepakat, antara lain:

  1. Semua ulama sepakat mengharamkan patung makhluk bernyawa, seperti arca, berhala, patung dewa, patung manusia dan patung hewan.
  2. Semua ulama sepakat mengharamkan gambar bohong yang tidak ada dasarnya, seperti gambar yang dituduhkan sebagai Nabi Isa, Maryam dan semua nabi dan rasul.
  3. Semua ulama sepakat mengharamkan gambar atau patung tokoh agama lainnya seperti Ali bin Abi Thalib ra dan para shahabat nabiridhwanullahi 'alaihim.
  4. Semua ulama sepakat mengharamkan patung atau gambar 2 dimensi yang bertentangan dengan syariat, seperti yang membuka aurat, banci, homoseks, lesbianis dan sejenisnya.
  5. Semua ulama sepakat menghalalkan boneka mainan walau berbentuk makhluk bernyawa.

Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari ‘Aisyah berkata, “Aku bermain-main dengan mainan yang berupa anak-anakan (boneka). Kadang-kadang Rasulullah SAW mengunjungiku, sedangkan di sisiku terdapat anak-anak perempuan. Apabila Rasulullah Saw datang, mereka keluar dan bila beliau pergi mereka datang lagi.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Nah, ada juga yang berpendapat bahwa gambar kartun yang lucu-lucu adalah lebih sederhana dari mainan boneka Aisyah ra. Kalau mainan boneka Aisyah yang berbentuk tiga dimensi saja halal, mengapa kartun lucu harus haram hukumnya?

Wallahu a'lam bishshawab